Hati yang Menyapa

Suatu kali Badrun bertengkar dengan istrinya, masing-masing tidak mau mengalah. Akibatnya, mereka tidak saling menegur sapa beberapa hari lamanya. 

Suatu hari Badrun bekerja hingga larut malam dan besok harus bangun subuh karena akan berangkat dinas ke Jakarta naik KA.8459, Parahyangan, pukul 05.00. Semula ia ingin meminta tolong kepada istrinya untuk membangunkannya ketika subuh, namun karena gengsi ia hanya menulis di secarik kertas, "Bu, tolong bangunkan saya pukul 03.30, karena harus bersiap-siap dinas ke Jakarta pukul 09.00, naik KA pukul 05.00!" Lalu ia taruh surat tersebut di atas meja rias istrinya. Di samping itu, Badrun juga mengatur alarm di handphonenya untuk berbunyi tepat pukul 03.00. 

Keesokan harinya, Badrun bangun kesiangan sekitar pukul 07.00. Handphone yang sudah diatur bunyi alarmnya ternyata tidak didengarnya, mungkin karena begitu lelahnya dan tidur yang sangat lelap. Namun, yang membuat ia marah besar dan sangat kesal adalah, istrinya yang tidak membangunkannya sebagaimana yang ia minta dibangunkan pukul 03.00. 

Rencana dinas ke Jakarta puri batal. Tetapi Badrun kemudian tampak terkejut ketika menemukan secarik kertas berisi tulisan tangan istrinya yang berbunyi: "Pak, bangun! Sudah pukul 03.00. Tuh... handphonenya bunyi dari tadi!” 

Komunikasi, merupakan kata kunci dan tindakan penting dalam membentuk, memelihara, dan meningkatkan kualitas hubungan antar manusia. Banyak hubungan bisnis terputus hanya karena kesalahan dalam berkomunikasi, keluarga menjadi retak bahkan nyaris berantakan karena komunikasi anggota di dalamnya yang tidak tertata dengan baik. Bahkan, hubungan kedinasan menjadi dingin karena salah satu pihak tidak mau berjiwa besar untuk memulai membuka komunikasi yang mungkin sudah lama tidak berjalan optimal. 

Jika diamati lebih lanjut, tidak mengherankan ada saja yang rela tidak membuka komunikasi terbuka (pembicaraan) dengan sesama rekan kerja bertahun-tahun padahal bekerja di bawah satu atap. 

Sukses tidaknya suatu kebijakan yang mengarah pada perubahan, entah itu yang menyangkut perubahan dalam lingkungan perusahaan maupun kebijakan di rumah, kuncinya adalah sosialisasi (komunikasi terbuka) yang menjadi tolok ukur berhasil tidaknya implementasi kebijakan tersebut. 

Di dalam perusahaan dan unit kerja, komunikasi ternyata memiliki fungsi sebagai pemecah masalah, alat pengendali, alat untuk menyatakan ekspresi emosional, dan sarana untuk memotivasi orang lain. Begitu pentingnya komunikasi sehingga upaya yang dilakukan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi terus menerus mengalami perkembangan, baik berbasis teknologi maupun dengan hati (by heart). 

Di tengah-tengah gencarnya kemajuan teknologi informasi, pendekatan sentuhan (human touch) tetap memegang peranan penting. Ambil contoh, SMS memang praktis dan murah, namun ketika rekan atau kekasih mendengar langsung suara kita, sekalipun just say hello, jauh lebih bermakna. 

Akan tetapi, surat-surat disposisi memang alat yang praktis untuk mendelegasikan suatu pekerjaan. Surat-surat disposisi yang disertai ucapan ringkas ketika punya kesempatan langsung untuk mengantarkan surat disposisi tersebut tentu kesempatan untuk menelepon ke rumah dalam lebih bermakna dan memotivasi. 

Menyediakan jam kerja, mungkin akan memberikan kedekatan khusus antara sang ayah atau ibu dengan keluarga di rumah. Itulah sebabnya orang bijak mengatakan komunikasi merupakan tali pengikat emosional yang tidak pernah lekang sepanjang zaman. 

Dari sini tampak bahwa komunikasi merupa kan upaya, keterampilan, pengorbanan, serta dorongan kejernihan hati untuk mau membuka percakapan dan mendengarkan orang lain dengan lebih seksama. Di atas semua itu, komunikasi melalui kejernihan hati yang dilandasi oleh ketulusan akan memberikan dampak yang menyejukkan orang lain. 

Lebih jauh Aa Gym dalam bukunya Jagalah Hati, MQ for the Beginners', mengatakan, "...Sebelum berkomunikasi dan bergaul, persiapkan hati kita yang bersih dan tulus. Kalau hati masih kotor dan dipenuhi unsur-unsur negatif, lebih baik kita mengurungkan niat untuk berkomunikasi karena hasilnya bisa fatal." Mungkin lebih baik diam.

Diam adalah emas menurut orang Jerman, daripada berkomunikasi dilandasi oleh kemunafikan dan kepura-puraan. Memang harga yang harus dibayar untuk komunikasi efektif tidak sedikit. Setidaknya membayar harga untuk berani dan kerelaan menegur orang lain, sekalipun dalam jabatan dan pangkat berbeda. 

Pertaruhan harga diri untuk berinisiatif yang dilandasi jiwa besar untuk pertama kali membuka saluran komunikasi dengan orang-orang yang mungkin selama ini telah menyakiti hati kita. Toh, dihadapan Sang Pencipta tidak ada harga diri berdasarkan pangkat, jabatan, kekayaan, atau perasaan menang kalah, yang ada adalah hati yang mau mengalirkan kebaikan terus menerus kepada orang lain bagi kemuliaan nama-Nya. 

Hari ini, ketika kita teringat masih ada masalah yang mengganjal sehingga menutup pintu komunikasi kita selama ini, baik dalam lingkungan keluarga maupun dengan pimpinan, sesama rekan kerja, atau dengan staf, maka inilah saat untuk berinisiatif memulai. 

Dilandasi hati yang tulus, kerendahan hati, dan niat baik kita melangkah lebih dulu memulai untuk menyapa. Perkara yang bersangkutan menerima atau tidak, sudah bukan bagian kita lagi, yang penting dari kita sudah memulai yang baik dan menjadi catatan tersendiri dalam "Buku Kehidupan" yang dimiliki Sang Pencipta. Begitu memulai, akan muncul deburan air suka cita yang memenuhi sukma sebagai tanda bahwa hati nurani kita sudah beres dan bersih. Mari kita mulai!


Sember: Setengah Isi Setengah Kosong