The Psychology of Money
Namanya Kenji Sato, 58 tahun, pria sederhana asal Jepang yg seluruh hidupnya dihabiskan untuk satu hal : menabung
Sejak muda, Kenji bekerja keras di pabrik elektronik di Nagano. Ia selalu datang paling pagi dan pulang paling malam. Gajinya tidak pernah disentuh untuk hal² “tidak penting.”
Tidak ada liburan, tidak ada makan malam di luar, bahkan tidak ada hadiah ulang tahun untuk dirinya sendiri. Semua uang masuk ke rekening tabungan, demi “masa depan yg aman.”
Tiga puluh tahun kemudian, masa depan itu akhirnya datang. Kenji pensiun dengan tabungan lebih dari 150 juta Yen, setara dengan Rp.15 miliar. Tapi bukannya bahagia, ia malah termenung di kamar kecilnya yang sunyi. Istrinya meninggal sebelum sempat mereka jalan² ke Kyoto, seperti janji lama mereka. Anaknya tumbuh besar tanpa pernah punya kenangan makan malam bersama ayah. Sekarang anak²nya sudah sibuk dengan hidup masing². Dan diatas meja, tumpukan buku tabungan menatapnya dingin, penuh angka, tapi kosong makna.
Dalam wawancara dengan surat kabar lokal, ia berkata pelan, “Saya punya banyak uang tapi saya tidak punya waktu untuk menikmatinya. Saya menabung untuk hari esok, tapi lupa hidup hari ini.”
Psikolog Keuangan Jepang, Dr. Shigeru Mizuno, menyebut fenomena ini sebagai “paradoks keamanan finansial”, dimana rasa takut akan kekurangan membuat seseorang kehilangan makna hidup.
“Banyak orang menyangka ketenangan datang dari saldo besar,” kata Mizuno, “padahal ketenangan sejati datang dari kemampuan menikmati hidup, bukan dari menghindari pengeluaran.”
Penulis buku The Psychology of Money, Morgan Housel, menulis tajam : “Uang terbaik bukan yg disimpan, tapi yang digunakan untuk membeli waktu, kebebasan dan ketenangan.”
Kini Kenji mencoba memperbaiki hidupnya. Ia mulai menulis jurnal, belajar membuat bonsai dan setiap pagi berjalan ke taman untuk menikmati matahari. Tapi ada air mata yg tidak bisa dihapus : waktu yg tidak bisa dibeli kembali.
Kisah Kenji adalah cermin bagi banyak orang modern, rajin menabung tapi lupa menikmati hidup. Kita lupa bahwa uang tidak pernah salah, tapi cara kita memperlakukannya sering kali membuat hidup terasa hampa.
Jadi....menabunglah, iya. Tapi jangan biarkan uang membuatmu lupa menghirup udara bahagia hari ini. Karena kelak, bukan jumlah di rekening yang kita rindukan, melainkan moment² yang tidak sempat kita nikmati.
